Beranda Catatan Pandemi Covid-19: Apa Artinya Mudik Jika Kita Harus Dikarantina?

Pandemi Covid-19: Apa Artinya Mudik Jika Kita Harus Dikarantina?

115
0
BERBAGI

MENJELANG bulan Ramadhan, isu tentang mudik di tengah pandemi Covid-19 terus menjadi perbincangan. Pemerintah secara resmi menerapkan larangan mudik sejak 24 April 2020, namun warga perantauan yang mudik sudak banyak.

Jika para pemudik itu berasal dari daerah merah penyebaran virus corona seperti Jabodetabek, maka otomatis mereka harus menjalani karantina selama 14 hari.

Jika selama berada di kampung halaman menunjukkan gejala batuk, demam, dan sesak napas seperi gejala pengidap corona, maka pemudik itu akan menjalani perawatan. Mungkin sampai harus diisolasi sambil menunggu hasil swab. Jika hasil swabnya positif, maka semua keluarga yang pernah bertemu dengannya harus dilacak jejaknya. Mereka juga harus dikarantina. Itu baru satu orang pemudik. Bagaimana jika 2, 3, 4 atau puluhan?

Itulah sebabnya, kita mesti sepakat dengan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto:  makna mudik tidak akan didapatkan karena harus dikarantina selama 14 hari di kampung halaman.

“Masyarakat yang mudik akan dikarantina di kampung halamannya sendiri. Mari lindungi kampung halaman dan keluarga kita di kampung halaman,” kata Yuri dalam konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Kita sepakat bahwa pandemi Covid-19 tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam memutus penularan COVID-19 dengan tidak mudik dan tidak bepergian.

Setiap orang harus memastikan diri tidak tertular dan menulari. Perjalanan untuk mudik, Yurianto sebut sama sekali tidak aman karena sangat mungkin akan terjadi kontak dekat dengan orang yang membawa virus corona penyebab COVID-19 yang tanpa gejala atau dengan gejala ringan.

“Sangat mungkin kita bertemu dan terpaksa kontak dekat dengan orang tanpa gejala atau orang dengan gejala ringan di kendaraan, di terminal, di stasiun, di rest area, atau di toilet umum sepanjang perjalanan,” tuturnya.

Atau bisa jadi, justru seseorang yang memutuskan mudik ke kampung halaman itu ternyata membawa virus corona tanpa gejala atau dengan gejala ringan karena berasal dari daerah yang terjangkit COVID-19.

Chrisna Putra